Etika Orang Jepang Saat Bertemu Dengan Mitra Bisnis

budaya jepang

Kolaborasi merupakan satu hal yang wajib dilakukan jika kita sedang memiliki bisnis dan ingin mengembangkannya lebih besar dan luas jangkauannya. Kolaborasi bisnis yang baik, pastinya diawali dengan perjumpaan dan perkenalan dengan pihak mitra bisnis dengan upaya menciptakan komunikasi dan pemahaman tujuan bisnis yang baik pula.

Jika terjadi hubungan bisnis yang serius, orang Jepang akan mengadakan pertemuan untuk pembicaraan lebih lanjut. Hal pertama yang dilakukan ketika bertemu adalah memperkenalkan diri dan menghormati mitra bisnis dengan cara membungkukkan badan. Membungkukkan badan dalam budaya Jepang merupakan sebuah penghormatan dan wujud sikap yang santun. Selain itu, membungkukkan badan juga bisa berarti merendahkan diri di hadapan orang lain sebagai bentuk rasa hormat.

Proses selanjutnya adalah tukar-menukar kartu nama yang disebut dengan meishi. Hal ini dilakukan setelah memperkenalkan diri. Memberi kartu nama dengan kedua tangan merupakan tanda kerendahan hati yang besar terhadap orang lain. Bagi orang Jepang, kartu nama merupakan sebuah alat perkenalan yang berguna dan memiliki manfaat jauh lebih besar daripada hanya sekedar kesepakatan untuk melakukan pertemuan selanjutnya. Kartu nama juga penting untuk mengetahui status seseorang sehingga mereka bisa menentukan sikap sesuai dengan status seseorang dan memilih ragam bahasa yang tepat untuk digunakan. Semakin tinggi status seseorang, maka ragam bahasa yang digunakan akan semakin halus, sebagai tanda kerendahan hati. Hal ini sangat penting karena mengingat status sosial sangat dijunjung tinggi oleh orang Jepang.

Kesabaran tinggi mutlak dibutuhkan dalam menjalin bisnis dengan orang Jepang. Salah satunya adalah budaya pengambilan keputusan secara kelompok. Walaupun dalam perundingan bisnis dipimpin langsung oleh direktur atau presiden perusahaan yang mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan, tetapi pembagian kewenangan secara tradisional dalam pengambilan keputusan merupakan budaya Jepang yang tidak bisa dihilangkan.

Satu hal sering membuat bingung dalam bisnis di Jepang adalah tidak adanya penolakan secara tegas apabila mereka tidak setuju tentang sesuatu. Dengan kata lain, orang Jepang tidak pernah mengatakan “tidak secara terus terang dan secara langsung”. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar tidak ada pihak yang merasa dipermalukan atau menyakiti perasaan orang lain dan untuk menjaga keharmonisan hubungan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bahwa kata “iya” atau “hai” dalam bahasa Jepang secara kontekstual dalam komunikasi antar orang Jepang belum tentu menunjukkan persetujuan. Kata “iya” umum digunakan untuk membiarkan pembicara mengetahui bahwa lawan bicara sedang mendengarkan dan memahami pembicaraannya.

Untuk mengungkapkan penolakan terhadap suatu hal, orang Jepang biasanya menghindar dengan cara “meminta maaf, bersikap diam, bersikap samar-samar, atau menggunakan gaya bahasa yang halus yang memiliki arti “tidak”.

Beberapa contoh penolakan halus (Rowland, 192 di dalam “Membangun Mental Kaya ala Jepang karya Agus Susanto: 2013) adalah sebagai berikut:

  • “Saya akan melakukan yang terbaik setelah saya membahasanya dengan atasan saya.”
  • “Saya akan memikirkan hal itu”.
  • “Itu sangan sulit”.
  • “Akan saya pertimbangkan untuk masa yang akan datang”.
  • “Saya kurang yakin”.
  • “Saya akan berusaha keras.”
  • dsb

Dikutip dari buku “MEMBANGUN MENTAL KAYA ALA JEPANG” (2013:39) Karya Agus Susanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *